Selasa, 17 Mei 2011

Peran Motivasi Terhadap Calon Peserta SNMPTN


I. Pendahuluan

Perguruan Tinggi khususnya negeri merupakan cita-cita hampir setiap individu yang telah menyelesaikan pendidikan menengahnya. Berbagai jalan ditempuh untuk dapat masuk ke perguruan tinggi favorit masing-masing. Salah satunya dengan mengikuti bimbingan belajar. Para siwa bimbingan belajar mati-matian agar dapat bersaing dengan orang lain dan akhirnya mendapatkan kursi di perguruan tinggi yang diinginkan. Namun tidak hanya usaha yang dibutuhkan untuk dapat mencapai itu semua. Motivasi merupakan salah satu faktor penting untuk dapat meraih sesuatu. Setiap individu pasti memiliki motivasi dalam hidupnya. Karena motivasi adalah salah satu kompas hidup. Adapun topik ini dipilih untuk melihat seberapa besar motivasi dan bagaimana perannya bagi siswa bimbingan belajar untuk dapat lulus di perguruan tinggi favorit mereka.

Landasan Teori

Motivasi adalah proses memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Ada salah satu perspektif mengenai motivasi yaitu perspektif kognitif. Menurut perspektif kognitif, pemikiran seseorang akan memandu motivasi mereka. Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi menurut perspektif kognitif (Pintrich & Schunk, 2002). Minat ini berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal seseorang untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka (persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan, terutama persepsi bahwa usaha adalah faktor penting dalam prestasi, dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan secara efektif. Perspektif kognitif juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan (Schunk & Ertmer, 2000; Zimmerman & Schunk, 2001).
Dari berbagai jenis perspektif ini pula terbagi 2 jenis motivasi, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik yaitu melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Misalnya seorang anak ingin masuk perguruan tinggi negeri karena akan diberi hadiah oleh orangtuanya ketika dia lulus sedangkan kalau dia masuk perguruan tinggi swasta tidak akan diberi imbalan apa-apa. Kemudian motivasi intrinsik merupakan motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri. Misalnya seorang anak ingin masuk perguruan tinggi karena memang ia ingin suka belajar, pendidikan di SMA masih kurang untuknya. Ada proses kognitif lainnya dalam motivasi yaitu motivasi untuk menguasai.
Anak menunjukkan dua respons berbeda terhadap tantangan atau situasi yang sulit: orientasi untuk menguasai (mastery orientation) atau orientasi tak berdaya (helpless). Orientasi untuk menguasai merupakan pandangan personal yang melibatkan penguasaan atas tugas, sikap positif dan strategi berorientasi solusi. Orientasi tak berdaya yaitu pandangan personal yang focus pada ketidakmampuan personal, atribusi kesulitan pada kurangnya kemampuan, dan sikap negatif.  (Dweck, 2002; Henderson & Dweck, 1990; Dweck & Leggett, 1988).
Kemudian ada yang dikenal dengan self efficacy, yang menurut Bandura yakni keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Bandura (1997, 2000, 2001) percaya bahwa self efficacy adalah factor penting yang mempengaruhi prestasi seseorang. Self efficacy memiliki kesamaan dengan motivasi intrinsik dan motivasi untuk menguasai. Self efficacy adalah keyakinan bahwa “aku bisa”; ketidakberdayaan adalah keyakinan bahwa “aku tidak bisa” (Stipek, 2002; Maddux, 2002).
Motivasi mengandung komponen sosial. Selain motif untuk berprestasi, murid juga punya motif sosial, diantaranya adalah orangtua dan teman sebaya. Teman sebaya dapat mempengaruhi motivasi belajar anak melalui perbandingan sosial, kompetensi dan motivasi social, belajar bersama, dan pengaruh kelompok teman sebaya. Anak dapat membandingkan dirinya sendiri dengan teman sebaya mereka secara akademik dan social (Ruble, 1983). Dibandingkan dengan anak kecil, remaja lebih mungkin melakukan perbandingan social, walaupun remaja lebih gampang menyangkal bahwa mereka membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain (Harter, 1990). 


Alat dan Bahan
·         Kuisioner
·         Alat Tulis; pensil, pulpen, kertas

Analisa Data
Cara yang dipilih untuk mendapatkan kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan menggunakan kuisioner. Ada 50 sampel yang diambil secara random untuk penelitian ini.  Kuisioner yang digunakan berisi 15 pernyataan dengan jawaban “ya” atau “tidak” yang merupakan perlambangan dari motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik. Jawaban-jawaban dari tiap kuisioner akan diperiksa sesuai dengan panduan blueprint yang telah disusun sebelumnya sehingga didapat kesimpulan akhir.

Subjek dan Objek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah 50 orang siswa bimbingan belajar Ganesha Operation Medan yang diambil secara random/acak sedangkan objeknya merupakan motivasi pada masing-masing individu.


Time Table


Uraian
APRIL
MEI
1
2
3
4
1
2
3
4
Pemilihan Topik


X





Perencanaan Kegiatan


X





Pembentukan Objek


X





Pembuatan Kuisioner



X




Pembagian Kuisioner




X



Pengolahan Data





X


Membuat Hasil Penelitian





X


Evaluasi dan Poster





X


Uploading Hasil






X
















Kalkulasi Biaya
·         Fotocopy Kuisioner                : Rp. 10.400,-
·         Transport                                : Rp. 30.000,-
·         Printing                                   : Rp.   5.000,- +
·         Jumlah                                    : Rp. 45.400

II. Pelaksanaan
1.      Pemilihan Topik                      :  3 Mei 2011
2.      Perencanaan Kegiatan             : 5 Mei 2011
3.      Penentuan Objek                    :  5 Mei  2011
4.      Pembuatan Kuisioner              :  6 Mei 2011
5.      Pembagian Kuisioner               : 10 Mei 2011
6.      Pengolahan Data                     : 10 Mei 2011
7.      Membuat Hasil Penelitian        : 12-13 Mei 2011
8.      Evaluasi dan Poster                 : 14-16 Mei 2011
9.      Uploading                               : 17 Mei 2011


III. Laporan dan Evaluasi

Laporan
Setelah data diolah didapatlah suatu kesimpulan. Ternyata motivasi intrinsic lebih mendominasi yaitu sebesar 86% dari keseluruhan koresponden sedangkan sisanya motivasi ekstrinsik yaitu sebesar 14%. Dalam bentuk poster, laporan dapat dilihat seperti gambar di bawah ini.





Evaluasi
Dari time-table yang sebelumnya telah dirancang memang sedikit menyimpang dengan pelaksanaan di lapangan. Terlambat sekitar 2 minggu. Mulai dari pemilihan topik hingga bagian akhir yaitu posting. Ketika pemilihan topik memang ada sedikit masalah karena perlu pertimbangan-pertimbangan serius untuk menjalankannya ke depan. Sempat terjadi pergantian topic yang menyebabkan keterlambatan selama 2 minggu tersebut namun akhirnya terpilihlah topik ini. Pelaksanaannya pun berjalan mulus karena jadwal pengambilan data telah disesuaikan dengan jadwal kuliah sehingga tidak bertubrukan. Setelah data didapatkan dan kemudian diolah, kelompok membagi tugas Pembagian juga disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Ada yang membuat poster, ada yang menulis pendahuluan, laporan, dan sebagainya sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Kerja sama yang baik dari tiap anggota juga merupakan hal penting dari penyelesaian mini proyek ini.

Testimoni Kelompok

Reza Indah Pribadi (10-014)
Menurut saya selama pengerjaan tugas mini proyek ini sangat melelahkan tapi menarik. Dari tahap perencanaan yang sangat membingungkan. Bingung mau pilih topic mana. Ketika telah dipilih satu ternyata ada kendala, ganti lagi, ganti lagi, hingga akhirnya terpilihlah topic ini, hahaha. Ketika perjalanan untuk mengambil data, terjadi kecelakaan yang membuat sedikit masalah di tengah jalan. Untung sekali yang nabrak mau tanggung jawab. Sesampainya di tempat kami harus “mengemis” izin dari teman-teman di bimbingan belajar. Bagan ini sedikit sulit karena dari pihak bimbel sendiri tidak memperbolehkan kami mask ke kelas. Kami hanya diperbolehkan mengambil data di luar kelas tapi masih dalam lingkungan bimbel tersebut.  Banyak yang tidak peduli, karena masih asyik dengan soal-soal dari tutornya. Ada juga yang sepertinya melihat kami seperti penjahat atau anggota NII. Karena ketika membagikan kuisioner wajah mereka begitu ketakutan, hahaha. Ada salah seorang tutor yang ikut sharing dan berbagi cerita degan kami. Dia juga bertanya-tanya bagaimana psikologi itu, tentunya kami juga berbagi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan psikologi dengannya. Semapt kami bingung karena kuisioner yang kembali pada kami hanya 45 kemudian tiba-tiba salah seorang dari mereka datang dan mengembalikan sisanya pada kami. Huh, sukurlah. Bagian yang paling seru sebenarnya adalah ketika melihat hasil dari angket. Hasilnya sangat bervariasi dan sangat menarik untuk diteliti. Yah begitulah beberapa testimoni dan pengalaman selama menjalani tugas proyek yang dapat saya tuliskan disini. Terima kasih.

Annisa Hazrina (10-030)
Proyek ini awalnya terlihat sulit sebelum dikerjakan melihat jangka waktunya yang begitu panjang, sepertinya tugas ini memang tidak gampang. Tapi pelan-pelan dikerjakan ternyata tidak begitu sulit, kok. Malah asyik. Dengan teamwork juga saya rasa tugas mini proyek ini benar-benar merangsang minat belajar dimana terdapat banyak rintangan mulai dari rasa jenuh dalam mengerjakan, dan lain-lain. Tapi lewat teamwork itu juga saya mendapat solusinyamelihat 2 orang lagi yang masih semangat saya jadi merasa malu kalau saya tidak berbuat apa-apa. Maka itulah saya kembali bersemangat untuk segera menyelesaikan tugas mini proyek ini. Over all, tugas ini menantang dan menyenangkan walau ada kalanya semangat turun drastic, tapi dengan kekompakan teamwork akhirnya mini proyek ini selesai. Terimakasih untuk Reza dan Agita sebagai teman satu team saya, kepada bu Dina sebagai pembimbing, dan seluruh pihak yang sudah membantu J.

Agita Sarah (10-114)
Saya rasa mini proyek ini sangat seru mulai dari awal hingga akhir. Cuaca yang baik selama pengambilan data mempercepat proses penelitian ini. Tentunya sangat menarik untuk melihat motivasi seseorang yang sedang dagdigdug untuk mengikuti SNMPTN karena dulunya kita semua tentu mengalami hal yang sama. Bimbel setiap hari dari pagi sampai sore, weekend masih ada try out atau simulasi. Itu sebabnya kami mengalami sedikit kesulitan meminta kesedian teman-teman bimbel untuk untuk mengisi angket karena masih asyik dengan pelajaran. Namun kami sangat berterima kasih pada mereka semua karena pada akhirnya bersedia menjadi sampel kami dalam penelitian ini. Itulah suka dukanya selama melakukan penelitian ini. Tapi tentunya ini masih belum apa-apa disbanding tugas proyek yang sesungguhnya apalagi skripsi. Semangat!!

Daftar Pustaka
Santrock, John W. (2004). Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Kencana

Kamis, 07 April 2011

Fenomena Pendidikan

Reza Indah Pribadi (10-014)
Annisa Hazrina (10-030)
Agita Sarah (10-114)


Fenomena Homeschooling
http://ndal.wordpress.com /2007/05/17/fenomena-pendidikan-mereka-ramai-ramai-ke-homeschooling/
Homeschooling atau sekolah rumah sekarang kerap menjadi bahan perbincangan hangat disekitar kita. Ada yang karena sibuk, alas an ini berlaku bagi anak-anak yang bekerja seperti artis, seniman, karateka, dan lainnya. Ada yang karena alas an bullying, tidak mendapat lingkungan social yang baik, jenih dan alas an alas an lainnya. Namun apakah homeschooling ini berdampak cukup baik bagi psikologis seorang anak? Apakah cukup baik bagi perkembangan pendidikan kita?
Dari sumber yang ada, diberitakan seorang anak bernama Gagah mengalami ketidaknyamanan dengan sekolah formalnya. Ia berpindah ke homeschooling dan hasilnya memang lebih baik. Menurut orang tuanya kini Gagah lebih ceria dan kreatif, berani dan inovatif. Kedua orangtua Gagah kini sungguh mendukung pelaksanaan home schooling.
Dipandang dari psikologi pendidikan, homeschooling berdasar pada learner centered dan paham konstruktivisme. Dimana di homeschooling anak bebas menentukan mata pelajaran, mereka anak searching dan ini sudah bermain dengan e-learning. Diawasi oleh para tentor, mereka akan mencari dan mendapatkan informasi yang banyak dan lebih intense daripada anak sekolah formal. Mereka ujian dan ulangan lewat internet. Paham konstruktivisme dapat dilihat dari bagaimana anak yang dibuat menjadi aktif dan terarah. Kondtruktif artinya bersifat membangun, dengan keadaan serba sendiri anak akan membiasakan diri untuk belajar lebih mandiri dan membagun potensi yang ada selama ini yang kiranya tidak dapat tersalurkan secara maksimal disekolah formal.
Dari psikologi keluarga mungkin kurang baik karena anak tidak biasa mengahadapi banyak kejadian layaknya anak yang bersekolah formal. Anak anak homeschooling rata-rata akan menjadi lebih tergantung pada keluarga mereka karena keluarga adalah lingkungan social yang setiap saat ia temui. Anak juga akan kurang matang berhadapan dengan keluarga lain yang jauh karena ia kurang besosialisasi. Walaupun di homeschooling memang ada pertemuan sesekali , namun itu tidak mencukupi tugas perkembangan mereka untuk beradaptasi dan mengenal banyak karakter. Dari pamdangan lain, dukungan keluarga sangat mampu mensupport mereka yang mengalami traumatis disekolah formal. Dengan dukungan kelularga untuk homeschooling ini kepercayaan diri anak akan bangkit lagi , seperti cerita si Gagah.
Dari psikologi bimbingan sekolah teori asimilasi untuk informasi homeschooling yang masuk ,ini bisa digunakan. Orang tua Gagah mendapatkan informasi itu dan mencoba menyeimbangkannya dengan kehidupan si Gagah. Ternyata memang cocok homeschooling ini bisa mengurangi rasa ketidaknyamanan anaknya yang hadir setiap ia bersekolah formal.

Obsesi Jadi Juara Kelas
http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/agar-anak-menjadi-juara/
Kalau dilihat dari sudut pandang psikologi pendidikan, anak ini memiliki motivasi yang tinggi. Motivasi merupakan suatu dorongan internal dalam diri yang mempengaruhi anak untuk berpikir, merasa dan bertindak. Ketekunan dalam diri anak membuat dia sangat antusias untuk menjadi sang juara. Dia juga memiliki motivasi internal. Dia ingin menjadi juara kelas karena memang dia ingin, bukan karena ada reward yang ia akan dapatkan ketika dia benar-benar mendapatkan tujuannya.
Dari pandangan pendidikan keluarga pun dia sangat beruntung. Ibunya seorang guru dan ayahnya seorang yang juga berpendidikan baik. Hal itu membuat proses pencapaian tujuannya semakin lancar. Dari psikologi keluarga ini merupakan hal yang sangat baik. Dia diberi disiplin yang benar-benar ia ikuti sehingga dapat mencapai obsesinya.
Bimbingan belajar dalam keluarga pun sangat berpengaruh. Dia didukung oleh cara didik kombinasi dari kedua orangtuanya. Diberi jadwal belajar yang sangat baik sehingga memudahkan proses belajarnya, walaupun sebenarnya memang dasar motivasinya yang baik. Bimbingan sekolahnya pun juga akan sangat berpengaruh. Di sekolah dia keinginan kuatnya ditangkap oleh sang guru yang juga sangat mendukungnya. Sampai-sampai dia dijadikan perwakilan sekolah untuk olimoiade sains. Itu akan meningkatkan keinginannya apalagi adanya suatu apresiasi yang sebenarnya tidak terlalu dipedulikannya karena sudah adanya motivasi internal tadi.

Murid ‘Menamai’ Guru
http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/dosa.sama.guru/001/007/388
Dari psikologi pendidikan, sebenarnya hal yang paling mendasari anak 'menamai' gurunya adalah karena cara mengajar guru yang kurang berkenan, masalah pribadi dengan guru, juga bisa karena saking senangnya pada si guru. Julukan ini bisa saja dengan berbagai macam, ada yang baik ada pula yang jelek. Tergantung apa alasan ataupun imej yang selama ini melekat pada gurunya.Misalnya dia anak kesayangna gurunya, dia juluki gurunya Ibu sayang atau Bapak sayang, misalnya gurunya kejam dia panggil Nenek sihir. Bukankah ini suatu fenomena yang sering kita temui di lingkungan sekolah. Hampir tiap guru di sekolah ataupun dosen di kampus pasti punya 'nama cantik' nya masing-masing.
Psikologi pendidikan keluarga melihat ini sebagai kegagalan keluarga mendidik anak untuk lebih menghargai orang-orang sekitar. Guru mungkin pada awalnya tidak tahu mengenai hal ini, namun sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium jua. Guru pasti akan mengetahui dan mengadu ke orangtua ataupun sebagainya.Ujung-ujungnya pasti berimbas ke keluarga juga bukan. Dibilanglah orangtuanya yang tidak becus mendidik anak, dibilang orangtuanya tidak memperhatikan anak, dan lain sebagianya.
Dari sudut psikologi bimbingan belajarnya sendiri, sebenarnya anak harus sering dibimbing di sekolah. Ada Bimbingan Konseling di sekolah yang sangat berguna untuk murid. Murid diarahkan untuk mengarahkan emosi dengan cara yang baik selain dengan 'menamai' guru nya. Walaupun nama yang diberi masih bagus-bagus saja seperti Ibu Cantik, dan lain-lain. Tapi tetap saja nama dari orangtua adalah nama yang paling baik untuk kita bukan?


Pendidikan Anak Indigo
http://riantipuspaandita.wordpress.com/2010/05/04/contoh-kasus-anak-indigo/
Anak Indigo adalah anak yang unik. Anak indigo juga biasanya disebuut dengan anak ungu,indigo jugalah sebutan untuk warna ungubiru. Anak-anak Indigo sebagai generasi yang dilahirkan saat ini, sebagian besar berumur 12 tahun atau lebih muda. Mereka berbeda. Mereka memiliki karakteristik yang sangat unik yang membuat mereka terlihat berbeda dari generasi anak-anak yang lain. Indigo sebagai sebuah sebutan menunjukkan warna aura yang mereka bawa, yang mengindikasikan adanya chakra “Mata Ketiga”, yang menunjukkan kemampuan Psychic dan ketajaman intuisi.Mereka adalah anak-anak yang umumnya tidak mudah diatur oleh kekuasaan, tidak mudah berkompromi, emosional dan beberapa diantaranya memiliki tubuh rentan, sangat berbakat atau berkemampuan akademis baik dan mempunyai kemampuan metafisis. Anak indigo ini memiliki sensitifitas yang sangat tinggi.
Anak indigo sering sekali dikatakan “anak aneh” padahal pada kenyataannya adalah mereka mempunyai sesuatu yang lebih dari anak-anak lain. Atau bahkan ada yang mengira anak indigo anak yang mempunyai roh-roh halus didalamnya padahal pada kenyataannya anak indigo mempunyai spiritualitas yg tinngi bukan berhubungan langsung dengan roh-roh halus. Bahkan ada yang mengira ini adalah sebuah penyakit.
Pendidikan yang seharusnya didapati anak indigo jika dilihat dari psikologi pendidikan adalah pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Seperti yang tertulis di atas bahwa anak indigo adalah sesosok anak yang unik. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak lain ini, jelas memerlukan peran pendidikan yang khusus pula. Misalnya dia lancer berbahasa Inggris dengan logat yang kental padahal dia tidak dibesarkan di lingkungan itu. Nah, jadi walaupun dia berkelebihan dalam bidang itu bukan berarti dia tidak harus sekolah, dia harus tetap sekolah karena anak itu masih dalam tahap berkembang. Peran orangtuapun cukup penting dalam hal ini. Anak- anak seperti ini tidak sedikit yang berkesusahan dalam beradaptasi dalam lingkungan. Banyak anak berbakat yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan sekolah sehingga mereka dikatakan bermasalah seperti terkena Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder) atau autisme.
Dalam psikologi pendidikan di pendidikan anak berkebutuhan khususlah anak indigo ini seharusnya ditempatkan karena anak indigo adalah anak yang “khusus” jadi pendidikan dan cara penyampaian pendidikannya harus tepat agar anak indigo merasa jauh lebih baik dan juga peran orangtua dalam mendidik serta penyesuaian diri di dalam lingkungannya sehari-hari.

Selasa, 15 Maret 2011

Intelegensi

IQ yang superior

Sho-Yano Anak Yang mempunyai IQ tinggi Se-Dunia

Sho Yano Lahir di Portland, Oregon, pada tahun 1991. ia adalah anak keturunan Jepang dan Korea yang berkewargenaraan Amerika. Pada usia 12 tahun ia memperoleh gelar IQ tertinggi sedunia dengan figur atau gambaran IQ yang begitu tingginya sehingga tidak dapat diukur lagi. Ia dilaporkan bermain ala chopin pada usia 3 tahun. Setelah memperoleh skor 1500 pada SAT di usia 8 tahun, ia masuk Loyola University pada usia 9 tahun dan lulus dengan summa cum laude pada usia 12 tahun dan sekarang masuk sekolah kedokteran Pritzker di University of Chicago pada program MSTP yang dirancang untuk mengkombinasikan gelar MD dan PhD.

Ia mulai kuliah pada usia 9 tahun di Loyola University dan menjadi mahasiswa terkecil di kampus dengan IQ tertinggi. Ia mengatakan tes IQnya menunjukkan angka 200, jauh di atas rata-rata dan dikategorikan di level jenius. Meskipun demikian, sho tidak peduli pada gambaran tersebut yang mendukung intelegensi extraordinarynya. “saya tidak terlalu peduli pada IQ”, katanya. “lebih penting adalah kerja keras.”. pada saat anak-anak lain seusianya berada di kelas empat dan belajar tentang ibukota negara dan fraksi, Sho belajar pengobatan dan menulis makalah tentang posisi kepedulian kesehatan pada kandidat presiden, yaitu George W. Bush dan Al Gore.

Dosennya mengatakan, kadang-kadang Sho menjawab pertanyaan sebelum waktunya. Sho juga belajar biologi, komposisi musik dan bahasa Inggris. Ia menulis makalah di saat bersamaan dengan mempelajari sel-sel dan kanker.

Kelulusannya pada kampus pertama adalah A-. pada ujian kimia ia memperoleh skor 106 dengan angka tertinggi yaitu 108. sho mengatakan kunci dari intelegensinya ditemukan pada DNA dan factor keluarganya. “ saya rasa ada factor genetic dari orang tua saya. Dan orang tua juga sangat mendukung serta memfasilitasi saya”.

Ayahnya adalah Katsura, seorang Jepang dan orang bisnis yang sukses. Ibunya, Kyung, adalah orang Korea, seorang ibu rumah tangga yang merawat anak-anaknya. Keduanya lulusan universitas. Ketika Sho berumur 2 tahun, ia dapat menulis. Umur 3 tahun, ia dapat membaca. Umur 4 tahun, ia dapat memainkan musik klasik. Umur 5 tahun sudah dapat membuat komposisi lagu. Sho menulis 29 lagu. Lagu favorit yang ditulisnya adalah ketika pergi bersama kedua orang tuanya ke pemandian air panas setelah kelahiran adiknya.

Sho tidak terlalu tertarik pada musik pop. “saya menyukai musik klasik. Favorit saya adalah Bach. Saya tidak menyukai musik metal. Orang tua Sho membuktikan bahwa Sho adalah anak berbakat. Ketika seorang anak tumbuh lebih cepat dan dapat menikmati hidupnya maka hal tersebut tidak dapat dihentikan. Orang tua Sho juga melakukan hal-hal yang dapat membuat hidup Sho seimbang. Ada waktunya Sho ikut Tae Kwon Do dan komitmennya untuk ke gereja sangat kuat.

Sho juga mengatakan, ”saya tidak merasa jenius. Saya anak gifted. Saya mendapatkannya dari Tuhan dan juga dimiliki oleh orang lain, jadi jangan disia-siakan.”